Belajar Antikorupsi dengan Kerja Keras  

Tag

, , , , ,

Pagi ini saya mengamati mesin-mesin cetak di pabrik yang sedang berputar berproduksi. Itu pertanda kerja keras dimulai.  Riuh suara mesin yang abstrak itu seolah terdengar berkata, “Kerja keras … kerja keras …”

Kerja keras adalah logika akal sehat. Itu citra diri. Kami ingin dikenal dengan cucuran keringat, yang kadang bau tak sedap itu.

Bagaimana kami bisa survive, bertahan dan kemudian tumbuh berkembang, jika tanpa kerja keras. Ini logika akal sehat.

Kerja keras itu agar kami bisa menghasilkan sesuatu yang baik dan memuaskan. Itu yang dimaksud citra diri.

Kami tidak ingin dikenang karena bau wangi pelicin atau segarnya fee. Kami hanya ingin dikenang dengan bau keringat.

Maka dengan kualitas pekerjaan dan layanan, kami memperkenalkan diri. Inilah bau keringat kami. Kami mencoba antikorupsi bukan dengan cara heroik berkoar-koar di mimbar TV, tapi dengan aksi diam-diam dalam kubangan kerja keras.

Memang dengan mencoba sikap antikorupsi ini, kami tidak dengan cepat melesat maju. Kami tumbuh bertahap, melangkah step by step.

Dan semoga Allah mengampuni karena kami sadar masih ada kemungkinan noda-noda kotor yang terselip di antara hasil usaha kami.

Tapi kami bangga dengan hasil keringat dan kerja keras seluruh komponen usaha. Semoga ini modal rizki yang diberkahi.

Kadang kami sedih dan merasa terdzalimi jika untuk survive kami harus kerja keras; tapi berita dan praktik korupsi merajalela.

Kadang hati kecil manusiawi kami berucap, korupsi itu enteng banget kerjanya, tapi hasilnya melimpah-ruah.

Tapi kalau sedang sadar, malah kami bersyukur. Seorang guru berpesan, soal rizki itu yang terpenting sebersih-bersihnya, “Jadi ukuran baiknya rizki itu bukan sebanyak-banyaknya, tapi sebersih-bersihnya,” pesan guru kami, almarhum Pak Muh. (*)

Mohammad Nurfatoni

Curahan Hujan, Curahan Rahmat

Tag

, , , , , ,

hujanmlangi

Hujan yang dirindukan mulai sering bertandang. Awas, jangan di kemudian hari dibenci keajekannnya karena engkau tak lagi rindu kepadanya. Hujan adalah rahmat Tuhan, mari berdoa dan bersyukur saat tercurah hujan dari langit.

Hujan, seperti juga sinar mentari, adalah sapaan langit pada makhluk bumi. Langit adalah simbol sakral (suci) dan bumi sebagai yang profan (materi). Jika yang di langit turun ke bumi, seperti hujan, patut disyukuri.

Maka, sebaiknya tidak kita tutup sepenuhya rumah kita dari sapaan langit. Biarkan sinar mentari menelusup dan air membasuh rumah.

Dan rasakan belaian Tuhan melalui utusan langit berupa air hujan atau sinar mentari yang menyapa langsung di rumah kita. Subhanallah.

Alaminya rumah yang cukup sinar mentari dan basuhan air hujan. Nikmati sinarnya dan gemericiknya; hangat dan segar. Dan itu tak harus mewah.

##

Hujan hari ini cukup untuk menyapu debu yang riuh berterbangan. Semoga hujan esok dan esok cukup untuk mengisi rongga kering sumur-sumur.

Sumur-sumur debit airnya jauh menurun saat tiada hujan. Keseimbangan ekologi sudah sangat terganggu. Tapi banyak yang tak menyadarinya.

Jika musim hujan tiba, air tumpah meluber ke mana-mana. Tak banyak lagi akar pohon yang menahannya, juga lahan kosong yang menampungnya.

Kita memperebutkan lahan kosong, memangkas pohon-pohonnya lalu membetonnya. Kita tak mempersilahkan air hujan mampir, sejenak pun.

Sementara sumber air tanah kita manfaatkan nyaris tanpa batas. Jet-pump beroperasi tanpa kendali. Air tanah dikuras, air hujan dibuang.

Jadi, ini bukan anomali iklim: jika kemarau kekeringan, jika musim hujan banjir. Ini adalah ulah rekayasa kita pada pohon dan tanah kosong.

Kita maunya serba rapi dan bersih. Enggan rimbun oleh pohon, malas becek oleh lumpur. Akhirnya pohon kita tebang dan tanah kita beton.

Mohammad Nurfatoni
*) Pecinta Hujan

Sakit dan Gizi Ruhani

Tag

, , , , , , , ,

Tak ada yang berharap sakit, tapi seringkali sakit itu dibutuhkan oleh ruhani. Karena dalam sakit kita tersadar, betapa tubuh tak kuasa atas serangan penyakit, yang seringkali hanya dilakukan makhluk kecil.

Terhadap serangan makhluk super-kecil saja kita ambruk dan sakit, maka sebenarnya kita tersadar dari mana sumber kekuatan itu? Jadi nampaknya sakit itu datang sebagai semacam cambuk peringatan, “Lu jangan sok gagah deh!

Mungkin merasa sok gagah, ayu, kaya, atau kuasa, menjadi modal kesombongan, lalu kita lupakan jati diri dan bahkan kuasa Tuhan.

Maka, seperti cambuk, sakit itu bisa melecutkan kembali kesadaran, bahwa ada kuasa sejati di balik kuasa kita. Oleh karena itu, bagi yang sedang sakit, nikmatilah! Itulah jamuan ruhani yang sedang disuguhkan Tuhan!

Jika kita gagal menikmati, maka sakit hanya pada sakit; namun jika kita bisa menikmatinya, ia akan menjadi supergizi kehidupan.

Maka dalam sakit, berdzikirlah, introspeksilah, membacalah, atau buatlah tulisan, semoga berguna bagi dirimu dan lainnya.

Dan yang juga tak kalah penting, dalam sakit istirahatkan dirimu dari hiruk-pikuk dunia yang sering merobotkanmu! Sakit adalah jeda sejenak.

Mohammad Nurfatoni
*) Ditulis saat sakit, beberapa tahun lalu

“Saya Anak Stasiun Kereta”

Tag

, , , ,

:: OLEH-OLEH DARI PESANTREN SPMAA, TURI, LAMONGAN ::

Niat awal kami memang bersilaturrahim pada seorang kawan yang habis opname dari RS. Rupanya beliau tidak langsung pulang ke rumanya di Kota Lamongan, melainkan mau recovery dulu di Pesantren SPMAA (Sumber Pendidikan Mental Agama Allah), sebuah pesantren yang didirikan ayah beliau (almarhum Bapak Guru Mochtar) dan kini diteruskan oleh adik-adik beliau.

Maka, selain menjenguk beliau, akhirnya kami juga diperkenalkan lebih jauh tentang SPMAA. Dipandu oleh adik beliau yang juga sebagai direktur yayasan, kami diperjalankan keliling melihat sisi-sisi pesantran yang terletak di Desa Turi, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan.

Dalam perjalanan itu, melintas seorang santri. Entah sebagai basa-basi atau apa, kami sempat menanyakan asal santri tersebut. “Berasal dari mana Dik?” tanyaku. “Dari stasiun,” jawabnya singkat.

“Ah, pandai bergurau rupanya anak itu,” gumanku dalam hati. Tapi ketika kami tegaskan lagi pertanyaan tentang asalnya, dia tetap menjawab dari stasiun kereta. Kami terhenyak, sebab berharap jawaban yang keluar dari mulut anak itu adalah Madiun atau Bojonegoro, atau kota dan daerah lainnya. Baca lebih lanjut

HIJRAHMU RINDUKU

Tag

, , , , , ,

hati muhajir sedang berdesir
meski begitu tak usah kuatir
kaum anshar sedang bersyair
menunggu kawan sedang terusir

Tak terbayangkan olehku
getir yang menyelimutimu
di hari-hari penuh pilu
ketika musuh-musuh memburumu

kau tawarkan iman
dijawab dengan cacian
kau bawa kedamaian
disambut dengan siksaan

pedih yang tak tertahan
menimpa sahabat sekawan
nabi dan sahabat yang terancam
hidup umat kian mencekam

dulu terboikot kerabat Quraisy
ke negeri Thaif pun terusir
di tanah kelahiran tergenjet
ruang dakwah jadi mepet

kau cari tanah perlindungan
Allah memberi jawaban
tanah Yatsrib penuh harapan
berkibar-kibar menunggu tuan

perjalanan mengendap-endap
kuatir musuh datang menyekap
padahal jarak tidaklah dekat
Mekkah – Madinah teramat penat

hati muhajir sedang berdesir
meski begitu tak usah kuatir
kaum anshar sedang bersyair
menunggu kawan sedang terusir

hijrahmu adalah perjuanganmu
juga pengorbananmu
menjadi inspirasiku
selalu terindu olehku

::MN::

Selamat Tahun Baru 1436

Ngaji Laku Jadi Tukang Becak

Tag

, , , ,

Saya ingin merasakan bagaimana beratnya jadi orang kecil, khususnya para tukang becak

Mbecak

:: Ilustrasi, foto oleh “Buta Warna” ::


Dua tahun saya absen bersilaturahmi pada beliau. Beberapa hari lalu alhamdulillah, saya disempatkan Allah kembali bertamu ke rumah beliau di sebuah kota di Jawa Timur.

Saya sedikit kaget saat mendapati di depan rumah terparkir becak dan dokar (tanpa kuda). Tapi saat tuan rumah tahu kedatangan kami, buru-buru beliau langsung mengajak kami masuk.

Di ruang tamu kami ngobrol sana-sini, akhirnya sampailah pada pembicaraan tentang becak yang sempat saya pikirkan di awal tadi.

Oh injih, sakniki kulo mbecak [Oh ya, sekarang saya jadi tukang becak],” penjelasan beliau pada kami soal adanya becak yang terparkir di depan.
Kami kaget dan hampir tak percaya jika beliau sekarang mbecak. Sebab kami mengenal beliau sebagai pengusaha dan (mantan) aktivis LSM. Termasuk orang yang berkecukupan dan terpandang di kota itu.

Tapi setelah mendapat penjelasan panjang lebar, kami percaya bahwa beliau benar-benar mbecak. Suka duka sebagai tukang becak akhirnya beliau ceritakan, misalnya bagaimana beratnya mengayuh (nggenjot) becak dalam rute yang panjang dengan beberapa tanjakan.

Bagaimana rasanya juga ketika mendapati ada penumpang yang membayar ongkos becak tanpa menampakkan muka (mengulurkan tangan dari pungung). Baca lebih lanjut

Meluaskan Makna Rezeki

Tag

, ,

Apa makna rezeki? Selama ini kita memersepsikan bahwa yang disebut rezeki selalu identik dengan harta benda. Misalnya jika kita mengatakan, “Aku baru saja dapat rezeki.” Ternyata yang dimaksud rezeki dalam pernyataan di atas adalah bonus dari perusahaan.

Pemakanaan rezeki dengan harta benda, tentu tidak salah. Dalam Al Qur’an sendiri bisa kita dapati pemaknaan seperti itu.

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (An Nahl/16:71)

Tetapi benarkah rezeki selalu dalam pengertian materi, harta atau benda-benda? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita simak ayat berikut:

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” (Al Hajj/22:58).

Rezeki dalam ayat di atas, tentu sangat jauh jika diartikan materi, karena rezeki di sini berkaitan dengan orang yang telah mati syahid. Karena itu salah satu tafsir rezeki dalam ayat tersebut adalah surga (Al Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI).

Salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada kita juga memberi makna non-material pada rezeki, “Rabbi zidni ilma, warzukni fahma, wajalni minasshalihiin” = Ya Tuhanku, berilah aku tambahan ilmu, berilah rezeki berupa kepahaman, dan jadikanlah aku termasuk hambamu yang shaleh). Jadi, rezeki dalam doa di atas berupa kepahaman ilmu. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.