Puisi-ku

Sajak-sajak Mohammad Nurfatoni

Dalam Cinta Menawan

I

Sejenak aku mengenang masa-masa indah penuh hasrat

saat pertama aku terkurung oleh perjumpaan yang menggelora

yang kemudian aku ikat erat dalam perjalanan waktu bersamamu

ada sekian cacatan tertoreh dalam lembaran-lembaran hidupku

saat bening sorot matamu memancarkan cahaya warna-warni

laksana lukisan jiwa yang menyemburkan aneka kembang wangi

aku kalut oleh kilatan-kilatan yang menggoda kejernihan hati

terjerat dalam balutan indah pelangi yang sesak misteri

bibirmu bergerak mengukir udara melahirkan simbol-simbol sarat makna

menyajikan senyum imaji penuh tafsir bagi aku yang masih pemula

aku gugup menyambutnya karena ragu dalam menafsirkannya

sebuah sapa, sinis, atau ajak yang menggoda

dadaku mengembang luas bagai terisi gelembung buih-buih bara

bercampur rasa antara suka yang menghujam dan cemas tak terkira

kali pertama aku terguncang oleh tarian-tarian jiwa berbalut asmara

aku pun bertanya apakah aku sedang terbakar percik-percik cinta

II

Rupamu memang menawan

tak heran jika sekian jiwa telah tertawan

dalam lingkaran rasa yang mencengkeram

kini tibalah giliranku yang harus kau tanam

aku terseret dalam pusaran cinta yang melawan

bergelombang ombak menghadang di depan

tapi hasrat menggelora apa bisa ditentang

ketika dua jiwa berjalin cinta saling erat merentang

hatiku dalam hatimu

bertaut-padu dalam satu

mengenggam dunia dalam rumus baku

semua hanya untuk kamu

III

Masa bergulir menyisir jejek-jejak perjalanan

kudekap kau dalam balutan tanggungjawab yang kuperan

setelah sekian lama waktu tercipta dalam kenangan

benarkah bahwa cinta itu masih penuh berkesan

masihkah aku cinta kamu

kala rupa itu berubah ramu

menjelma dalam ragu

tak lagi seperti dulu

aku terkesima oleh sebuah tanya

di manakah letak cinta

pada raga yang rupawan

atau pada jiwa yang menawan

aku mulai ragu oleh kata cinta pertama

yang mengalir deras bagai madu diperas

benarkah aku cinta sepenuh-penuhnya

ataukah hanya pada tubuh berparas

kini aku ditimpa oleh kenyataan

diuji bertubi-tubi pengalaman

dan harus sanggup membuktikan

bahwa cinta harus tetap menawan

Sidojangkung, 25 Januari 2008

Guru, Dimana Tuhan?

: Pak Muh

Guru, di mana aku bisa bertemu Tuhanku?

di langit bershaf tujuh?

di altar penyembelihan hewan kurban itu?

di mihrab-mihrab masjid yang membatu?

pada bangunan kubus tua peninggalan Ibrahim kekasihMu?

atau pada padang makrifat yang membisu?

Guru, di mana aku bisa bertemu Tuhanku?

pada jamuan malam para pemuja tubuh?

pada pojok penderitaan kaumku?

atau pada jiwaku yang membeku?

pada ragaku yang membiru?

ke mana, di mana Guru?

Jawab Guru:

Engkau akan bertemu Tuhanmu

ketika tiada satu nilai pun di jagat raya ini

dapat kau tegakkan dalam kehidupanmu

Maksud Guru?

Jawab Guru:

Tak ada nilai dalam ruang dan waktu ini

yang bisa kau analogikan dengan momen jumpa Tuhan

Jadi, Guru, apakah kita harus lepas dari ruang dan waktu?

Jawab Guru:

Tuhan tak bisa diumpamakan

tak bisa ditanya di mana dan kapan

hanya bisa dihayati oleh yang mendapat RidhaNya

Terima kasih, Guru!

Mlangi – Tuban, 20 Desember 2007

dimuat Surabaya Post Minggu, 27 Januari 2008

Sangkan Paran

siapa yang pergi pasti rindu pulang

laksana burung yang ribuan iwa yang puas lagi diridhaiNya. ragang

ake sarangkilometer terbang

dan kembali lagi ke sarang

maka pulang mengingatkan pada sangkan paran

beginilah Tuhan menyambut mereka yang pulang

kepulangan yang tak harus menunggu raga meregang

: “Wahai jiwa yang tenang,

kembalilah pada Tuhanmu dengan jiwa yang puas lagi diridhaiNya.”

Sidojangkung, 27 Ramadhan 1428 H

Rindu Wajah-Mu

Tuhan, berhadapan dengan manifestasiMu pun tak mampu

bagaimana jika aku bertatap langsung denganMu

cintaMu yang meluap, meluber tak terbendung

menerobos luka-jiwaku yang terpasung

tapi Tuhan, aku rindu wajahMu


Sidojangkung, 17-12-2007


Lorong Kesendirian

aku yang terlempar di lorong kesendirian

tersudut dari hiruk pikuk dan lolongan tawa riang

aku yang terkurung sunyi, tergerus sepi, terkapar sendiri

akankah segera bangkit menemukan mitra dialog, Sang Maha Sejati?

Sidojangkung, 17 Desember 2007

Fana

aku dalam semesta fana

terbungkus lingkaran hampa

meraba penuh tanya

benarkah aku ada?

aku ada karena Kau ada

tanpa Kau, aku tiada

maka aku ada

bagai tiada

Surabaya, 21 Januari 2008

dimuat Surabaya Post Minggu, 27 Januari 2008

Sajadah Kusut

lima waktu kubersujud
tak kutemukan wujud
hanya bayang merajut
di atas sajadah kusut

Engkau bilang dekat
lebih dekat dari urat
tapi Engkau tak juga merapat
jiwaku tak pernah melekat

aku resah
tak berjumpa yang ku-sembah
aku gelisah
kepada siapa ku-menengadah?

Surabaya, 14 Januari 2008

dimuat Surabaya Post Minggu, 27 Januari 2008


Aku Debu

aku debu

terseret deru

terbawa arah delapan penjuru

lenyap tersapu angin pilu

aku debu

terhempas ke samudera biru

tak ada riak yang memburu

senyap begitu saja berlalu

aku debu

tak berarti bagiMu

di hamparan semesta-kuasaMu

yang bergugus-gugus memukau itu

Sidojangkung, 12 Januari 2008

dimuat Surabaya Post Minggu, 27 Januari 2008

Misterius

Kau sungguh misterius

berlapis-lapis terbungkus

sangat sulit kutembus

meski dengan jiwa terhunus

tak ada jarak terjejak

kuketuk pintu tak beranjak

kutanya Kau mengelak

kusapa malah berjarak

Kau tersembunyi

dalam sunyi

tanpa bunyi

bersendiri

Sidojangkung, 13 Januari 2008

dimuat Surabaya Post Minggu, 27 Januari 2008

Berkelana Menemukan CintaMu

1

Perkenalanku denganMu memang dipaksakan keadaan

turun-temurun mewaris dalam garis keturunan

tak ada tanya penuh selidik apalagi pemberontakan

semua harus diterima meski akal dalam tekanan

dibilang Kau ada tapi aku tak pernah berjumpa

bertahun-tahun aku mencari dalam kelana

tak ada jawab bagi jiwaku yang merana

di mana kini Kau sedang berada

saling silang jawab yang pernah kudapat

katanya Kau ada di atas Arsy sana

di langit yang bertingkat-tingkat

duduk sendiri di singgahsana

bolehkah aku bertanya

dalam kesendirian di sana

menjauh dari ciptaan

apakah Kau tak kesepian

ada pula jawab, Kau lebih dekat dari urat

melekat dalam tubuh yang mendekat

dan bolehkah aku bertanya lagi

apakah Kau menyatu dalam diri ini

ada lagi jawab, Kau ada dimana-mana

sejauh pandang tertahan di situ Kau berada

lantas aku pun bertanya juga

apakah Kau menjelma semesta

2

Orang-orang pada terbelalak

atas tanyaku yang dikata galak

Tuhan kok ditanya-tanya

bisa kualat dibuatNya

tapi itulah dorongan jiwaku

oleh rasa rinduku padaMu

bagaimana aku menyembah

sesuatu yang tak terjamah

padahal aku ingin berjumpa

dengan Tuhan yang mencipta

berdialog dan bercengkrama

mengutarakan rasa cinta

3

Sampai suatu waktu aku terperanjat

oleh ungkapan yang mencegat

dari uraian suatu ayat

bahwa tiada satu pun serupa Dzat

bagaimana aku bisa melihat Dzat

jika mataku penuh tipu muslihat

terhadap celupan bening tongkat

mataku sudah jatuh terpeleset

maka seperti Musa yang berhasrat

melihat Dzat secara kasat

dia pun akhirnya terjerembab

dalam ruang nisbi tanpa jawab

Dzat yang tak terpagar ruang dan waktu

bagaimana tertangkap oleh yang serba semu

maka jika ingin bertemu

tanggalkan jubah akal itu

jangan melihat Dzat dengan mata akal

tapi lihatlah Dia dengan mata hati

hati yang bersih penuh bekal

ikhlas dan rendah hati

4

Tuhan tercinta, penuh cinta

cintaNya meluas ke segala penjuru

tanpa batas bagi semua cipta

menerobos jiwa-jiwa penuh haru

maka raihlah cintaNya pada yang dicinta

Dia sangat pencinta para tuna kuasa

yang miskin lagi dinista

tersingkir dari lingkar tahta

kasihlah makan pada mereka

maka Dia akan mencinta kita

berilah kelayakan pada mereka

maka Dia akan memberkati kita

oh Tuhan jika aku harus bercumbu

tak harus jauh ke langit bershaf tujuh

sebab Kau ada di bumi kuberpijak

tempat segala makhluk bergerak

Kau bersama mereka yang terdesak

Kau bersama mereka yang terdepak

Kau bersama mereka yang kesulitan

Kau Tuhan bagi yang lemah dan dilemahkan

Sidojangkung, 2008

Kosong

kosong

hampa

suwung

begitulah sebelum semesta tereja

tiada yang ada selain kosong

ada kosong

kosong ada

kini aku dekap kosong di mana ada

menyelimuti, meliputi

ke mana aku menatap,

aku mendapat kosong

delapan penjuru mata angin

menunjuk kosong

kosong di atas

kosong di bawah

di luar kosong

di dalam kosong

kanan kiri kosong

yang terjauh kosong

terdekat pun kosong

itu kosong, ini kosong

sana kosong, sini kosong

ke mana pun, aku memeluk kosong

di mana pun, aku dipeluk kosong

tapi kosong bukan ruang

karena ruang terbentuk setelah kosong

kosong bukan tanpa isi

karena seluruh isi menumpang kosong

kosong maha luas tak bertepi

tak ada yang membatasi

tak terwadai oleh rupa-rupa

yang pernah menelusup hati

berjuta kata tak pernah mewakili

nalar dan akal takluk mengabdi

Sidojangkung, 17 Pebruari 2008

Aku Melihat Tuhan dalam Aquarium

tuhan, ijinkan aku bertanya kepadamu

apakah aku dan kamu semisal ikan dalam samudera air

ke arah mana saja ikan berenang

ia temukan air

apakah itu analog dari firmanmu:

ke mana saja engkau menghadap,

engkau akan menatap wajah tuhan

kamu bilang dekat

bahkan lebih dekat dari urat

memang aku melihat ikan dan air sangat dekat

bahkan melekat

berjarak tanpa antara

itukah makna petunjukmu:

tuhan bersama kamu

di mana pun kamu berada

tapi tuhan

mengapa aku tak melihatmu

benarkah ikan juga tak melihat air

itukah maksud bahwa kamu adalah

khazanah tersembunyi

Sidojangkung, 17 Pebruari 2008

Nama ke-Seratus

: Pak Muh

Tuhan,

Kau sandang 99 nama

aku ingin menggenapkannya

menjadi namaMu yang keseratus

Sidojangkung, 23 Pebruari 2008

Hijrahmu, Rinduku

Tak terbayangkan olehku

getir yang menyelimutimu

di hari-hari penuh pilu

ketika musuh-musuh memburumu

kau tawarkan iman

dijawab dengan cacian

kau bawa kedamaian

disambut dengan siksaan

pedih yang tak tertahan

menimpa sahabat sekawan

nabi dan sahabat yang terancam

hidup umat kian mencekam

dulu terboikot kerabat Quraisy

ke negeri Thaif pun terusir

di tanah kelahiran tergenjet

ruang dakwah jadi mepet

kau cari tanah perlindungan

Allah memberi jawaban

tanah Yatsrib penuh harapan

berkibar-kibar menunggu tuan

perjalanan mengendap-endap

kuatir musuh datang menyekap

padahal jarak tidaklah dekat

Mekkah – Madinah teramat penat

hati muhajir sedang berdesir

meski begitu tak usah kuatir

kaum anshar sedang bersyair

menunggu kawan sedang terusir

hijrahmu adalah perjuanganmu

juga pengorbananmu

menjadi inspirasiku

selalu terindu olehku

Surabaya, 8 Muharram 1429

Akukah Tuhan Itu?

benarkah aku untuk-Mu
beribadah untuk Kamu
berderma demi Engkau
berjuang karena ikhlas padaMu

ah .. aku beribadah demi pahala
bukankah aku berharap surga
ah .. aku beribadah karena tak mau siksa
bukankah aku takut intipan neraka

aku berderma untuk Kamu?
bukan, tapi karena aku juga butuh balasan serupa
aku berderma demi kamu?
bukan, tapi karena aku berharap hartaku berlipat ganda

aku berjuang untuk Kamu?
bukan, tapi karena aku berharap ada juga yang menolongku
aku berjuang demi Kamu?
bukan, tapi hanya demi ambisi bahwa inilah eksistensiku

mana yang untuk Kamu
semua untuk aku
apa yang demi Kamu
segalanya demi aku

akukah yang berkuasa
bukankah semua untukku
akukah tempat tujuan
bukankah segalanya kutahan

kamu Tuhan
aku pun tuhan
berjejer sejajar
ah.. aku memang kurang ajar!

Surabaya, 21 Januari 2008

Bisikan tanpa Bunyi

heran

lolongan loudspeaker dari atas mihrab

yang terhormat itu

sama sekali tak kudengar

mungkin karena terlalu keras memekak

atau karena suara itu telah menjelma rutin

yang merampas minat

atau karena aku kini benar-benar tuli

kukorek lubang kupingku jauh ke dalam

jangan-jangan ada batu yang membuntu

harus aku cukil

tapi sampai tembus lubang kuping yang satu

aku tetap tak mampu mendengar

aku kesal

kupotong kedua daun telinganku

aku tak butuh telinga lagi, gumamku

tapi aneh

tanpa kuping

justru aku mendengar berdesir-desir bisikan

jernih tanpa gema

lembut penuh wibawa

aku bertanya:

dari mana suara itu kudengar

lewat apa aku mendengar

itukah bisikan tanpa suara

tanpa aksara

Sidojangkung, 25 Pebruari 2008

Aku Dicipta Tuhan, Apakah Aku Tuhan?

aku tuhan

setidaknya aku bagian dari tuhan

bukankah aku dicipta tuhan

aku ada setelah tuhan

dan tiada yang lain sebelum tuhan

maka dari apa aku dicipta

dari mana aku dibentuk

jika bukan dari dzat tuhan?

karena aku dicipta tuhan

apakah aku tuhan?

kun fayakun

jadi, maka menjadi

Sidojangkung, 17 Pebruari 2008

Dzikir

Kilat

cahaya berkelebat-kelebat

dua kutub mengutus arus

dalam dzikir tak terputus

Hujan

jatuh menyapa bumi

menjadi dzikir yang ritmis

menyuburkan, menghidupi

Ombak laut

bergulung-gulung deru

mengantar beribu perahu

sebuah dzikir terpadu

Aku

komat-kamit berseru

berbusa-busa mulutku

hanya itu dzikirku

Sidojangkung, 2 Maret 2008

Misteri Kata

kata dan kata
terangkai

menyihir

membius

menusuk

kata dan kata
misterius
penuh imaji
pesona tak bertepi

kata dan kata
indah menggelora
menghibur jiwa merana

Sidojangkung, Januari 2008

Mimpi Pemimpin Negeri

Wahai para [kandidat] pemimpin ….


mimpikan memimpin negeri gemah ripah lohjinawi
tanah mengembur, padi palawija dan sayur hijau royo-royo
sungai jernih mengalir di bawahnya ikan cantik menari-nari
hutan rimbun dedaunan, burung bercengkrama dan berkicau

mimpikan rakyat aman sentosa di bawah katulistiwa
sandang pangan papan cukup kesejahteraan terjaga
bersekolah bergelar dan tertampung lapangan kerja
berusaha bergotong royong berselaras saling menjaga

mimpikan jadi pemimpin yang adil nan bijaksana
sedikit bicang tak berkecak pinggang banyak bekerja
pantang memperkaya diri meminta-minta upeti
bekerja keras siang malam melayani negeri

ah, aku bermimpi di tengah ironi …..


Surabaya, Januari 2008

Ikhtiar

kusambung kain

kujahit dan kuserupakan bentuk

begitulah kujalani hidup

dari benang-benang nasib bertumpuk

Surabaya, Januari 2008

Makhluk Sisa
I

di pagi pekat
saat mimpi mulai mendekat
saat peraduan menghangat
kutempus sekat, kukais sisa nikmat


II
aku memungut jijik
menyingkirkannya
menyembunyikannya
dari kehidupan necis orang kota

Sidojangkung, Januari 2008

15 comments so far

  1. Imey on

    Pak Fatoni, bagus banget puisinya… Selain jadi penulis berita ternyata sastrawan juga..

  2. Toni on

    Ah, masak bagus sih? Puisi itu tercipta saat bengong lho!

    Tapi boleh juga dilihat sebagian di http://www.pojokhati.wordpress.com!

  3. herna on

    jadi pujangga cinta ne?tapi emang puisinya oke punya. jadi ngiri ne aq. gmn kabarnya bos?maaf baru bisa jenguk pojok baca soalnya aq lagi cuti n ada speedy gratisan he-he-he. salam bwat temen-temen. nulis puisi lagi mas.

  4. KAMALUDIN on

    assalamu’alaikum
    puisi sampean apik tenan mas perpaduan keindahan kata-kata dan kedalaman makna. perpaduan sastra, filsafat dan agama.
    oh ya temen-temen alumni keputih yang aktif di fosi siapa saja. dulu temen-temen di jakarta sempat rutin ngadain acara ngumpul2 (arisan). tapi udah 5 tahun ini berhenti. Salam buat temen-temen semua.

  5. Fatoni on

    @ Herna
    Saya bukan pujangga (cinta); mungkin tepatnya orang yang terkapar oleh biusan cinta! Haaaa … hhh …

    Ayo, Mbak Herna, mumpung gratis, segera produktif (menulis)!

    @ Kamaluddin
    Ah, ada saja! Itu hanya penuangan pikiran saat lagi nganggur.

    Teman alumni Keputih kan banyak di Jakarta! Mas Handoko, Askan, Habib, dkk.

    Mas Kamaluddin sendiri sekarang dimana?

  6. KAMALUDIN on

    saya ngantor di jakarta tapi tinggal di bekasi. maksud saya temen keputih yang masih di Surabaya. Apa mas Tukardi, yang sampean maksud Tukardi dari keputih? Kalau kabar LSI Keputih Bagaimana?

  7. arch222 on

    kata dan kata
    begitulah makna
    dan kini berima
    walau hanya sepatah kata

    indah
    kataku
    katamu
    seperti inilah

    sebuah karya

  8. arch222 on

    bukankah menyenangkan saat kaata-kata tersusun rapi
    dengan rima sanjak dan tentunya mengandung arti
    dan karya menjadi bukan sekedar karya
    juga bukan sekedar oret-oret yang ada

  9. Toni on

    @ Kamaluddin
    Harijaya dan Tukardi masih sangat aktif, meski Keputih sendiri sudah surut.

  10. Toni on

    @ arch222
    Makasih puisi komentarnya!

  11. Arif Prasetyo on

    AWW

    Semoga masih ingat dengan Jombang

    WWW

  12. Alwi on

    Waduh pak bagus amet susunan kata2na orang filsafat y…Boleh kan menimba ilmu na..Lan nal wae yua.

  13. sandy on

    dalem banget puisinya….

    I do like your poems…!
    GREAT!!!

  14. Toni on

    @ Sandy
    Makasih apresiasinya, ah belum sampai segitu kok?

  15. Arisex on

    Gak nyangka jangkung punya pujangga. Arisex jangkung wetan


Leave a reply